Parenting VOC vs Soft Parenting: Mana yang cocok untuk parenting anak jaman sekarang?

Sabtu, 10 Januari 2026

Parenting VOC vs Soft Parenting

Sumber gambar : dibuat menggunakan Gemini AI


Waktu itu saya melihat sebuah video di TikTok yang memperlihatkan seorang anak kecil yang mulutnya diplester oleh ibunya sebagai hukuman karena si anak sering meludah dan berkata kasar.

Tindakan tersebut menuai pro dan kontra dari para netizen, ada yang setuju dengan pola asuh keras yang dikenal dengan metode parenting VOC tersebut, namun ada juga yang nggak setuju karena menganggap ada cara lain yang lebih baik.

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai parenting voc vs soft parenting? Apa benar metode parenting VOC sudah nggak cocok untuk jaman sekarang dan sebagai gantinya soft parenting adalah metode yang paling bagus?

Sebelum menilai pola asuh mana yang paling benar “parenting VOC vs soft parenting”, mari kita pahami dulu tentang kedua metode parenting anak tersebut!


Karakteristik dan Prinsip Dasar Soft Parenting


Soft parenting merupakan pola asuh anak yang berfokus pada membangun hubungan yang aman secara emosional antara orang tua dan anak. Prinsip utamanya adalah menghargai anak sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi, bukan memaksa untuk patuh.

Ciri khas soft parenting adalah mengutamakan komunikasi dua arah, mengajarkan konsekuensi yang logis bukan hukuman, konsisten terhadap aturan, serta empati terhadap perasaan anak. Orang tua tetap tegas, tetapi tidak menggunakan teriakan, ancaman, kekerasan verbal atau kekerasan fisik.

- Manfaat dan Efek Positif Soft Parenting terhadap Perkembangan Emosi Anak

Soft parenting membantu anak mengenali emosinya sejak dini seperti senang, marah, sedih atau kecewa. Dan yang paling penting, anak diajari untuk mengelola emosi tersebut dan memahami bahwa tetap ada batasan perilaku yang harus dijaga.

Anak yang dibesarkan dengan pendekatan ini cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik, empati tinggi, dan kemampuan komunikasi yang sehat. Hubungan orang tua dan anak pun menjadi lebih hangat karena dilandasi rasa aman dan saling percaya.

- Kesalahpahaman Umum Mengenai Soft Parenting

Salah satu mitos terbesar tentang soft parenting adalah anggapan bahwa anak akan menjadi manja dan tidak disiplin. Padahal, soft parenting bukan berarti membiarkan semua keinginan anak terpenuhi.

Justru sebaliknya, pendekatan ini menekankan batasan yang jelas, tetapi disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi. Anak tetap belajar tanggung jawab dan konsekuensi, hanya saja tanpa tekanan emosional berlebihan.

Mengapa Orang Tua Cenderung Memilih Pola Asuh Galak atau Parenting VOC?


Parenting VOC vs soft parenting merupakan pilihan parenting anak yang sering dipengaruhi oleh beberapa hal. Seperti pengalaman masa kecil orang tua sendiri, tingkat stres, lingkungan sosial, serta dukungan yang dimiliki. Orang tua yang lelah, kurang istirahat, atau hidup di lingkungan yang penuh tekanan lebih rentan menggunakan pola asuh galak.

Sebaliknya, orang tua yang memiliki akses informasi parenting seperti di era kemajuan teknologi dan informasi di jaman sekarang, dukungan pasangan, dan lingkungan yang kondusif cenderung lebih mampu menerapkan soft parenting secara konsisten.

- Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Pola Asuh Galak pada Anak

Pola asuh galak atau VOC parenting memang sering terlihat ampuh, seperti anak bisa langsung diam, takut, dan mengikuti perintah. Namun hal ini sebenarnya memiliki efek jangka pendek, karena kepatuhan tersebut biasanya didorong oleh rasa takut, bukan pemahaman.

Sementara untuk jangka panjang, anak berisiko mengalami masalah kepercayaan diri, kesulitan mengekspresikan emosi, hingga kecenderungan memberontak atau justru menjadi sangat pasif. Selain itu, anak juga bisa meniru pola komunikasi seperti ini saat berinteraksi dengan orang lain.

Perbandingan Reaksi Anak terhadap Disiplin Keras dan Disiplin Positif (Parenting VOC vs Soft Parenting)


Jika kita bandingkan parenting VOC vs soft parenting berdasarkan reaksi anak, pada disiplin keras, anak biasanya bereaksi dengan takut, menutup diri, atau melawan secara pasif. Sedangkan pada disiplin positif, anak mungkin tetap menangis atau protes di awal, tetapi perlahan belajar memahami alasan di balik aturan.

Perbedaan utamanya terletak pada motivasi anak: takut dihukum versus memahami nilai dan tanggung jawab.

Strategi Menyeimbangkan Keduanya: Tegas Tanpa Perlu Bersikap Galak


Menjadi orang tua bukan tentang memilih salah satu dari metode parenting VOC vs soft parenting. Orang tua tetap bisa bersikap tegas tanpa perlu bersikap galak. Kuncinya ada pada kesadaran emosi dan konsistensi.

Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
  • Menurunkan nada suara sebelum menegur anak
  • Menyampaikan aturan secara singkat dan jelas
  • Memberikan konsekuensi yang relevan dengan perilaku
  • Mengatur emosi diri sebelum bereaksi

Lingkungan Hunian yang Mendukung Soft Parenting



Parenting anak yang sehat tidak berdiri sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kawasan yang aman, walkable, dan ramah anak membantu anak menyalurkan energi secara positif serta mengurangi stres orang tua.

Salah satu kawasan yang dirancang dengan konsep tersebut adalah Summarecon Tangerang, pengembangan ke-9 dari Summarecon Group dengan tagline six lakes, one vibrant city. Kawasan ini memiliki enam danau besar, jalan bulevar yang lebar, jalur pedestrian yang nyaman, serta akses strategis.

Untuk keluarga muda, terdapat Cluster Rona Homes yang mengusung konsep rumah tumbuh bergaya modern tropis, lengkap dengan one gate system, clubhouse, kolam renang, dan children playground. Pilihan lain, terdapat Cluster Briza Lakes dengan konsep spacious compact living dan tropical urban homes, yang sudah siap huni sejak Desember 2025. Selanjutnya bagi yang mencari hunian lebih eksklusif, terdapat Cluster Havena Lakes yang mengusung konsep luxury affordable & tropical timeless design.

Lingkungan yang nyaman dan tertata seperti ini dapat menjadi pondasi penting bagi orang tua untuk menerapkan parenting anak yang paling tepat demi membangun karakter anak yang baik.

***

23 komentar:

  1. Sebenarnya saya kok kurang cocok ya sama parenting VOC. Karena saya sendiri dibesarkan dari VOC model, jadi sebisa mungkin memutusnya. Meski di dalam kondisi sadar sering geregetan sama anak, tapi bukan berarti itu pembenaran juga terhadap perilaku kita sbg ortu kan ya.

    Tapi balik lagi ke masing² keluarga. Tiap keluarga pasti ada situasi di mana salah satu model parenting ini diterapkan. 🥰🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya lulusan parenting VOC, emang cenderung nggak akan mengulang metode itu pada anaknya. Ya, kembali lagi ke situasi di keluarga masing-masing.

      Hapus
  2. Perbandingan parenting VOC dan soft parenting dijelasin dengan jelas, bikin orang tua atau calon orang tua bisa lebih sadar memilih pola asuh yang sesuai. Aku alumni didikan VOC wkwkw

    BalasHapus
  3. Aku setuju bahwa dalam hal merawat dan membersamai anak tuh nggak hanya soal metode parenting yang digunakan oleh orang tua ke anak. Tapi lingkungan tempat tinggal juga sangat berpengaruh.

    Memang sebaiknya mencari hunian yang memungkinkan kita bebas memilih metode parenting mana yang sesuai untuk anak. Kayak kawasan yang dirancang sama Summarecon Tangerang

    BalasHapus
  4. Saya setuju banget dengan cara didik yang bisa Tegas Tanpa Perlu Bersikap Galak, apalagi ala VOC. Anak juga bisa berubah akibat lingkungan, kalau tinggal di Summarecon Tangerang bisa dipantau deh ya main dimana😁😉

    BalasHapus
  5. Kalo aku sih sebagai orang tua dengan anak 1 di era sekarang, aku combine keduanya sih kak, bisa jadi VOC bisa soft tergantung casenya. Apapun itu aku yakin orang tua ingin yang terbaik buat anak

    BalasHapus
  6. Bener banget lingkungan asri dan nyaman bisa memberi jiwa tenang pada pemghuninya. Pada akhirnya menimbulkan rasa bahagia termasuk pada orang tua. Naah kalau orangbtuanya bahagia kan mendidik anaknya juga seneng sehingga jadi bisa lebih sabar. Soft parenting hanya bisa dilakukan dengan penuh kesabaran...

    BalasHapus
  7. Sebetulnya, meski keilmuan parenting itu berkembang setiap waktunya, saya selalu berkeyakinan bahwa parenting itu bukan "ilmu pasti". Cara setiap keluarga akan berbeda tergantung kondisi sosial, ekonomi, budaya yang melingkarinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget sama komennya, parenting itu bukan ilmu pasti!! Pasti ada perubahan mengikuti perkembangan jaman.

      Hapus
  8. menurutku sih perlu ditelusuri lagi ya kenapa anak bisa berkata-kata kasar. Apakah ini didapat dari rumah atau pergaulannya. Seharusnya sih kalau di rumah tidak biasa mengumpat anak juga tidak akan mengumpat. Nah, kalau dapatnya dari luar ini memang mungkin perlu ilmu lagi untuk menghadapinya gimana. Aku sendiri juga kadang masih suka marah-marah bahkan pernah tantrum juga menghadapi anak-anak dengan tingkah lakunya

    BalasHapus
  9. Keseimbangan memang sangat diperlukan termasuk dalam mendidik anak. Mau soft atau versi VOC, kalau tinggal di lingkungan yang menunjang pasti cocok saja. Lingkungan yang baik artinya tetangga ga bakal kepo dengan metode parenting kita

    BalasHapus
  10. Lingkungan yang nyaman dan tertata bisa jadi pondasi kuat dalam proses parenting. Saat anak tumbuh di ruang yang aman, rapi, dan penuh dukungan, orang tua pun lebih mudah menanamkan nilai, kebiasaan baik, serta membentuk karakter anak secara positif sejak dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lingkungan itu ngaruh banget. Seperti perumpamaan, kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan ketularan wanginya.

      Hapus
  11. Menurut saya sih memang perlu ada gabungan antara keduanya. Soft parenting tetap harus diutamakan, karena seperti yang Mbak Dilla tulis: anak itu individu yang sedang belajar mengelola emosi. Tapi nggak dipungkiri, ada kalanya anak bisa kelewatan, dan pendekatan “parenting VOC” masih ada gunanya untuk situasi darurat yang benar-benar sudah lewat batas. Jadi anak juga tahu kapan mereka harus berhenti dan refleksi.

    BalasHapus
  12. Kapan ya, saya punya rumah di Cluster Rona Homes.... 🤔

    BalasHapus
  13. Aku kayanya masih ada di tengah-tengah. Kadang jadi Ibu Peri, kadang Macan. Tergantung situasi dan kondisi. Dan lingkungan tuh emang ngaruh banget ya. Semoga kita ada, punya hunian tepat sehingga bisa didik anak dengan baik

    BalasHapus
  14. Lingkungan yang nyaman dan aman untuk pertumbuhan serta di dorong dengan cara didik yang baik akan menjadikan suasana keluarga yang tentram dan tempat tumbuh paling istimewa

    BalasHapus
  15. Aku tim parenting campuran hihi. Karena kesalahan tetap harus ditegur dan tetap tidak melupakan kelembutan untuk membersamai anak-anak hihi

    BalasHapus
  16. Anak sekarang banyak yg ngelunjak. Kalau dialemin malah tambah parah. Hehehe...
    Makanya saya milih keduanya aja. Melihat bagaimana situasi nya
    Yang penting memilih lingkungan yang baik, seperti di pondok pesantren insyaallah lingkungan nya terjaga

    BalasHapus
  17. Keduanya bisa dilakukan. Ada saatnya tegas dan soft. Kadang pengen soft terus eh ternyata anaknya butuh ditegasin kalau nggak gitu, ya anak berasa dibolehin melakukan semua yang dia mau. Kedua tipe parenting Baim yang soft maupun ala voc ada waktunya sih diterapi. Ke anak kalau menurut saya

    BalasHapus
  18. Jujurly kalau buat aku lingkungan yang nyaman adalah pilihan nomer satu untuk rumah yg ditinggali karna ini juga membentuk kepribadian anak selain tipe parenting apa yg diterapkan

    BalasHapus
  19. Ulasan menarik! Ternyata emang butuh keseimbangan antara tegas dan lembut supaya anak tumbuh makin hebat

    BalasHapus
  20. Saya memilih untuk menggabungkan 2 style parenting. Tegas tapi tidak galak. Aplagi jaman now, anak lebih banyak tanya mengapa, kenapa tidak seperti jaman saya dulu yang hanya patuh tanpa mengetahui mengapa dilarang atau disuruh melakukan suatu hal

    BalasHapus