![]() |
Sumber gambar : dibuat menggunakan Gemini AI |
Waktu itu saya melihat sebuah video di TikTok yang memperlihatkan seorang anak kecil yang mulutnya diplester oleh ibunya sebagai hukuman karena si anak sering meludah dan berkata kasar.
Tindakan tersebut menuai pro dan kontra dari para netizen, ada yang setuju dengan pola asuh keras yang dikenal dengan metode parenting VOC tersebut, namun ada juga yang nggak setuju karena menganggap ada cara lain yang lebih baik.
Bagaimana pendapat teman-teman mengenai parenting voc vs soft parenting? Apa benar metode parenting VOC sudah nggak cocok untuk jaman sekarang dan sebagai gantinya soft parenting adalah metode yang paling bagus?
Sebelum menilai pola asuh mana yang paling benar “parenting VOC vs soft parenting”, mari kita pahami dulu tentang kedua metode parenting anak tersebut!
Karakteristik dan Prinsip Dasar Soft Parenting
Soft parenting merupakan pola asuh anak yang berfokus pada membangun hubungan yang aman secara emosional antara orang tua dan anak. Prinsip utamanya adalah menghargai anak sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi, bukan memaksa untuk patuh.
Ciri khas soft parenting adalah mengutamakan komunikasi dua arah, mengajarkan konsekuensi yang logis bukan hukuman, konsisten terhadap aturan, serta empati terhadap perasaan anak. Orang tua tetap tegas, tetapi tidak menggunakan teriakan, ancaman, kekerasan verbal atau kekerasan fisik.
- Manfaat dan Efek Positif Soft Parenting terhadap Perkembangan Emosi Anak
Soft parenting membantu anak mengenali emosinya sejak dini seperti senang, marah, sedih atau kecewa. Dan yang paling penting, anak diajari untuk mengelola emosi tersebut dan memahami bahwa tetap ada batasan perilaku yang harus dijaga.
Anak yang dibesarkan dengan pendekatan ini cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik, empati tinggi, dan kemampuan komunikasi yang sehat. Hubungan orang tua dan anak pun menjadi lebih hangat karena dilandasi rasa aman dan saling percaya.
- Kesalahpahaman Umum Mengenai Soft Parenting
Salah satu mitos terbesar tentang soft parenting adalah anggapan bahwa anak akan menjadi manja dan tidak disiplin. Padahal, soft parenting bukan berarti membiarkan semua keinginan anak terpenuhi.
Justru sebaliknya, pendekatan ini menekankan batasan yang jelas, tetapi disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi. Anak tetap belajar tanggung jawab dan konsekuensi, hanya saja tanpa tekanan emosional berlebihan.
Mengapa Orang Tua Cenderung Memilih Pola Asuh Galak atau Parenting VOC?
Parenting VOC vs soft parenting merupakan pilihan parenting anak yang sering dipengaruhi oleh beberapa hal. Seperti pengalaman masa kecil orang tua sendiri, tingkat stres, lingkungan sosial, serta dukungan yang dimiliki. Orang tua yang lelah, kurang istirahat, atau hidup di lingkungan yang penuh tekanan lebih rentan menggunakan pola asuh galak.
Sebaliknya, orang tua yang memiliki akses informasi parenting seperti di era kemajuan teknologi dan informasi di jaman sekarang, dukungan pasangan, dan lingkungan yang kondusif cenderung lebih mampu menerapkan soft parenting secara konsisten.
- Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Pola Asuh Galak pada Anak
Pola asuh galak atau VOC parenting memang sering terlihat ampuh, seperti anak bisa langsung diam, takut, dan mengikuti perintah. Namun hal ini sebenarnya memiliki efek jangka pendek, karena kepatuhan tersebut biasanya didorong oleh rasa takut, bukan pemahaman.
Sementara untuk jangka panjang, anak berisiko mengalami masalah kepercayaan diri, kesulitan mengekspresikan emosi, hingga kecenderungan memberontak atau justru menjadi sangat pasif. Selain itu, anak juga bisa meniru pola komunikasi seperti ini saat berinteraksi dengan orang lain.
Perbandingan Reaksi Anak terhadap Disiplin Keras dan Disiplin Positif (Parenting VOC vs Soft Parenting)
Jika kita bandingkan parenting VOC vs soft parenting berdasarkan reaksi anak, pada disiplin keras, anak biasanya bereaksi dengan takut, menutup diri, atau melawan secara pasif. Sedangkan pada disiplin positif, anak mungkin tetap menangis atau protes di awal, tetapi perlahan belajar memahami alasan di balik aturan.
Perbedaan utamanya terletak pada motivasi anak: takut dihukum versus memahami nilai dan tanggung jawab.
Strategi Menyeimbangkan Keduanya: Tegas Tanpa Perlu Bersikap Galak
Menjadi orang tua bukan tentang memilih salah satu dari metode parenting VOC vs soft parenting. Orang tua tetap bisa bersikap tegas tanpa perlu bersikap galak. Kuncinya ada pada kesadaran emosi dan konsistensi.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
- Menurunkan nada suara sebelum menegur anak
- Menyampaikan aturan secara singkat dan jelas
- Memberikan konsekuensi yang relevan dengan perilaku
- Mengatur emosi diri sebelum bereaksi
Lingkungan Hunian yang Mendukung Soft Parenting
Parenting anak yang sehat tidak berdiri sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kawasan yang aman, walkable, dan ramah anak membantu anak menyalurkan energi secara positif serta mengurangi stres orang tua.
Salah satu kawasan yang dirancang dengan konsep tersebut adalah Summarecon Tangerang, pengembangan ke-9 dari Summarecon Group dengan tagline six lakes, one vibrant city. Kawasan ini memiliki enam danau besar, jalan bulevar yang lebar, jalur pedestrian yang nyaman, serta akses strategis.
Untuk keluarga muda, terdapat Cluster Rona Homes yang mengusung konsep rumah tumbuh bergaya modern tropis, lengkap dengan one gate system, clubhouse, kolam renang, dan children playground. Pilihan lain, terdapat Cluster Briza Lakes dengan konsep spacious compact living dan tropical urban homes, yang sudah siap huni sejak Desember 2025. Selanjutnya bagi yang mencari hunian lebih eksklusif, terdapat Cluster Havena Lakes yang mengusung konsep luxury affordable & tropical timeless design.
Lingkungan yang nyaman dan tertata seperti ini dapat menjadi pondasi penting bagi orang tua untuk menerapkan parenting anak yang paling tepat demi membangun karakter anak yang baik.
***

Tidak ada komentar
Posting Komentar